Menjelajah Tempat-tempat Wisata Religi Islami di Bali

Menjelajah Tempat-tempat Wisata Religi Islami di Bali

Thu, 11 Jul 2019 - 01:12 PM


Dengan jumlah muslim hanya sebesar 13,37 persen, tidak heran jika aktifitas umat Islam di Bali kurang begitu terdengar, tidak terkecuali pada sektor pariwisata. Namun siapa sangka, Bali juga memiliki sejumlah objek wisata bernuansa Islami yang tidak hanya sedap untuk dipandang tapi juga menyejukkan hati.
 
So, jika berkunjung ke Bali jangan hanya singgah ke tempat-tempat wisata yang menjadi buruan turis mancanegara. Cobalah untuk menikmati sensasi yang berbeda dengan menjelajahi objek-objek wisata religi Islami berikut ini.
 
1.     Masjid Al Hidayah Bedugul


Keberadaan komunitas-komunitas muslim di daerah Bedugul ditambah banyaknya wisatawan beragama Islam yang berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan, menjadikan masyarakat di kawasan Bedugul merasa perlu untuk mendirikan tempat ibadah dan lembaga pendidikan bernuansa Islam. Sehingga berdirilah pondok pesantren, Madrasah Aliyah serta sebuah masjid yang semuanya diberi nama “Al Hidayah”.
 
Selain itu, untuk menopang biaya operasional lembaga pendidikan, didirikanlah wisata agro strawberry yang dikelola Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Pondok Pesantren Hidayah Bali.
 
Karena itu, bagi wisatawan muslim yang berkunjung ke Pura Ulun Danu, nikmati pula aktifitas berwisata agro strawberry. Karena selain menghadirkan keasyikan tersendiri, Anda juga ikut membantu keberlangsungan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah Al Hidayah.
 
Jangan lupa untuk singgah ke Masjid Al Hidayah yang berlokasi di JL Candi Kuning, berseberangan dengan Danau Beratan yang menjadi lokasi dari Pura Ulun Danu. Masjid yang cukup megah dengan desain indah yang dipengaruhi gaya arsitektur Bali ini dibangun di lereng bukit, sehingga untuk mencapai lokasi masjid harus berjalan kaki menapaki anak tangga yang panjang dan tinggi.
 
Sesampai di pelataran akan terlihat bangunan masjid berlantai dua yang berdiri dengan gagah. Pengunjung yang berada di sini, tidak hanya dapat menikmati bangunan masjid yang indah, tapi juga eloknya landskap Danau Beratan dengan Pura Ulun Danu yang ada di kejauhan.
 
2.     Kampung Gelgel dan Masjid Nurul Huda


Bagi yang ingin napak tilas sejarah masuknya Islam ke Pulau Bali, wajib untuk berkunjung ke Kampung Gelgel yang ada di Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, karena Gelgel merupakan kampung Islam pertama di Bali dan di kampung ini terdapat masjid bernama Masjid Nurul Huda yang juga masjid pertama di Bali.
 
Sejarah masuknya Islam ke Pulau Bali berawal dari ekspansi Kerajaan Majapahit yang berhasil menaklukkan Kerajaan Bendahulu pada tahun 1343 M, sehingga Bali sepenuhnya dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Untuk mengatur pemerintahan di Bali, Mahapatih Gajah Mada untuk sementara waktu menunjuk Ki Patih Wulung dan pusat pemerintahan selanjutnya dipindah ke Gelgel oleh Patih Wulung.
 
Usai penaklukan tersebut Bali mengalami kekosongan pimpinan selama beberapa tahun sebelum akhirnya Gajah Mada menunjuk Sri Aji Kresna Kapakisan yang memiliki garis keturunan dari Raja Airlangga untuk menjadi penguasa di Bali.
 
Kedatangan Sri Aji Kresna ke Bali sekitar tahun 1357 M dikawal prajurit-prajurit pilihan dan empat puluh diantaranya beragama islam. Para prajurit yang beragama Islam itulah yang selanjutnya mendiami sebuah perkampungan dan mendirikan masjid yang diberi nama “Nurul Huda”.
 
Masjid tersebut hingga kini masih berdiri kokoh meskipun sudah berdiri sejak abad XIV. Renovasi memang pernah dilakukan beberapa kali, namun sebatas renovasi ringan tanpa sedikitpun merubah bentuk bangunan yang asli, termasusk menara setinggi 17 meter. Di masjid ini juga dapat dilihat sebuah mimbar tua berbahan kayu jati yang tidak lapuk sedikitpun meskipun sudah berumur ratusan tahun.
 
3.     Desa Pegayaman


Satu lagi kampung Islam di Bali yang menarik untuk dikunjungi adalah Desa Pegayaman yang ada di Kabupaten Buleleng yang jaraknya sekitar 65 km dari Kota Denpasar dan sekitar 9 km dari Kota Singaraja.
 
Di sini terdapat suku atau etnik yang bernama Nyama Selam yang menganut agama Islam namun dalam kesehariannya tetap menjalankan tradisi lokal sebagaimana penduduk Bali pada umumnya.
 
Dalam bahasa Bali ‘Nyama’ memiliki arti ‘saudara’ sedang ‘selam’ artinya ‘Islam’. Sehingga arti dari Nyama Selam adalah saudara (dari Orang Bali) yang memeluk agama Islam. Sebutan tersebut mengindikasikan adanya toleransi, karena orang-orang Bali yang beragama Hindu menyebut mereka yang beragama Islam dengan sebutan ‘saudara’, begitu juga yang beragama Islam menyebut orang Bali Hindu dengan sebutan ‘Nyama Bali’.
 
Etnis Nyama Selam konon merupakan campuran dari 3 etnis berbeda, yaitu Bali, Jawa dan Bugis. Percampuran ketiga etnis tersebut terjadi setelah melewati sejarah yang panjang. Diawali dengan penaklukan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi oleh Kerajaan Buleleng dengan Rajanya Ki Barak Panji Sakti sekitar abad XVI.
 
Penaklukan Kerajaan Blambangan yang kala itu menjadi bagian dari Kerajaan Mataram, terdengar hingga ke Mataram. Penguasa Mataram yang tidak ingin perang terus berlanjut, meminta untuk dilakukan gencatan senjata. Sebagai bentuk penghormatan, Raja Mataram menghadiahi Barak Panji seekor kuda beserta 8 patih yang beragama Islam.
 
Setelah pulang kembali ke Bali, 8 patih tersebut ditempatkan di Banjar Jawa dan bertugas membantu Kerajaan Buleleng dalam peperangan. Itu sebabnya saat Kerajaan mengwi yang ada di Tabanan menyerang, kedelapan patih tersebut bahu membahu dengan pasukan Kerajaan Buleleng untuk mengusir penyerang hingga akhirnya prajurit Kerajaan Mengwi berhasil ditaklukkan.
 
Atas jasa-jasanya itulah kedelapan patih dihadiahi lahan di perbatasan Buleleng dan salah seorang  patih dihadiahi seorang gadis yang merupakan keturunan Raja Buleleng untuk dinikahi. Sehingga terjadilah percampuran etnis antara Jawa dan Bali.
 
Diwaktu yang berbeda, tepatnya sekitar tahun 1850an, Raja Hasanuddin yang melakukan ekspedisi laut dari Sulawesi menuju Jawa, kapalnya dihantam ombak dan terdampar di perairan Buleleng. Pasukan Bugis tersebut kemudian menghadap dan meminta pertolongan Raja Buleleng.
 
Permintaan tersebut dikabulkan oleh Ki Barak Panji Sakti dan mempersilahkan oarang-orang Bugis tersebut untuk memilih, apakah akan tinggal di pesisir laut atau tinggal di desa Pegayaman yang warganya menganut agama yang sama dengan mereka yaitu agama Islam.
 
Sebagian dari pasukan Hasanuddin itu memilih tinggal di pesisir pantai, sebagian lainnya memilih tinggal di Pegayaman. Kedatangan orang-orang Bugis itulah yang membuat terjadinya percampuran etnis antara Bugis, Bali dan Jawa. (*)

 



by Abu Tholib

Share :